Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2015

Asuhan Keperawatan Pada Pasien STEMI/INFARK MIOKARD


Asuhan Keperawatan Pada Pasien STEMI/INFARK MIOKARD

Pembuluh darah koroner merupakan saluran pembuluh darah yang membawa darah mengandung O2 dan makanan yang dibutuhkan oleh miokard agar dapat berfungsi dengan baik. Penyakit Jantung Koroner adalah penyakit jantung yang disebabkan arterioskelerosis atau pengerasan pembuluh darah nadi, yang dikenal sebagai atherosclerosis. Pada keadaan ini pembuluh darah nadi menyempit karena terjadi endapan – endapan lemak pada dindingnya.
Penyakit kardovaskuler ini merupakan nilai kematian terbesar di Indonesia. Sehingga diperlukan strategi penatalaksanaan dalam menegakkan diagnose Sindroma Koroner Akut (SKA) secara optimal. Secara klinis infark akut tanpa elevasi ST ( NSTEMI ) sangat mirip dengan angina tidak stabil. Dalam kaitannya dengan jantung, sindroma ini disebut Angina Pectoris, yang disebabkan oleh karena ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen miokard dengan penyediaanya. Yang membedakan adalah adanya enzyme petanda jantung yang positif dan terdiri dari infark miokard akut dengan atau tanpa elevasi segmen ST serta angina pectoris yang tak stabil.

DEFINISI
Sindrom Koroner Akut (SKA) yang biasa dikenal dengan penyakit jantung koroner adalah suatu kegawatdaruratan pembuluh darah koroner yang terdiri dari infark miokard akut dengan gambaran elektrokardiografi (EKG) elevasi segmen ST (ST Elevation Myocard Infark/ STEMI), infark miokard akut tanpa elevasi segmen ST (Non STEMI) dan angina pektoris tidak stabil (APTS). Penyakit ini timbul akibat tersumbatnya pembuluh darah koroner yang melayani otot-otot jantung olehatherosclerosis yang terbentuk secara progresif dari masa kanak-kanak.

ETIOLOGI
Angina pectoris disebabkan karena berkurangnya aliran darah koroner, sehingga akan menyebabkan suplay oksigen ke jantung tidak adekuat.
Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
Pajanan terhadap dingin dapat mengakibatkan vasokonstruksi dan peningkatan tekanan darah, disertai peningkatan kebutuhan oksigen.
Makan-makanan yang berat akan meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrik untuk pencernaan, sehingga menurunkan ketersediaan darah untuk suplai jantung ( pada jantung yang parah, pintasan darah untuk pencernaan membuat nyeri angina semakin memburuk).
Stress / berbagai emosi akibat situasi yang menegangkan menyebabkan frekuensi jantung meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatnya tekanan darah, dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat.
Beberapa kasus non aterosklerotik Sindrom Koroner Akut (SKA) dapat disebabkan oleh:
Arteritis
Trauma
Diseksi
Tromboemboli
Kelainan kongenital
Kokain
Komplikasi tindakan kateterisasi jantung.

FAKTOR-FAKTOR RESIKO

Dapat Diubah (dimodifikasi)
Diet (hiperlipidemia)
Rokok
Hipertensi
Stress
Obesitas
Kurang aktifitas
Diabetes Mellitus
Pemakaian kontrasepsi oral
Tidak dapat diubah
Usia
Jenis Kelamin
Ras
Herediter
Kepribadian tipe A

Manifestasi Klinis
Nyeri dada dengan lokasi khas substernal atau kadang kala di epigastrium (dengan ciri seperti diperas, perasaan seperti diikat, perasaan terbakar, nyeri tumpul, rasa penuh, berat atau tertekan), Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit dan tidak lebih dari 30 menit, Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin, Gambaran EKG : depresi segmen ST dan terlihat gelombang T terbalik, gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul serangan menjadi presentasi gejala yang sering ditemukan pada NSTEMI.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 1. Pemeriksaan Elektro Kardiogram (EKG)      
2. Pemeriksaan Laboratorium
2.9  KOMPLIKASI
1. Gagal jantung kongestif
2.  DEFEK SEPTUM VENTRIKEL
3.  RUPTUR JANTUNG
4.  RUPTUR SEPTAL
5.  RUPTUR OTOT PAPILARIS

ASUHAN KEPERAWATAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

D: Nyeri dada berhubungan dengan penurunan aliran darah koroner
Tujuan : nyeri dada hilang

Kriteria hasil :
a)   Laporkan nyeri dada mulai berkurang dengan segera
b)   Tampak nyaman dan bebas nyeri
c)   Cukup istirahat; kecepatan napas, frekuensi jantung, dan tekanan darah kembali ke tingkat sebelum nyeri
d)  Curah jantung adekuat, dibuktikan dengan: frekuensi dan irama jantung, tekanan darah, mental yang baik, haluaran urin, BUN dan kreatinin serum, warna, suhu, dan kelembaban kulit

Intervensi
a)    Kaji, dokumentasi dan laporkan hal-hal berikut:
Keluhan pasien mengenai nyeri dada yang meliputi lokasi, radiasi, durasi nyeri, dan faktor yang mempengaruhinya
Efek nyeri dada pada perfusi hemodinamik kardiovaskuler terhadap jantung, otak, ginjal, dan kulit
Rasional :
Data tersebut membantu penyebab dan efek nyeri dada serta merupakan garis besar untuk membandingkan gejala pasca terapi
Terdapat berbagai kondisi yang berhubungan dengan nyeri dada. Terdapat temuan klinis yang khas pada nyeri iskemik
Infark miokardium menurunkan kontraktilitas jantung dan complianceventrikel dan dapat menimbulkan disritmia. Curah jantung menurun, mengakibatkan tekanan darah dan perfusi jaringan menurun. Frekuansi kerja jantung meningkat sebagai kompensasi untuk mempertahankan curah jantung

b)   Lakukan pencatatan EKG 12 lead selama nyeri, sesuai yang diresepkan untuk menenyukan luasnya infark
Rasional :
Pemeriksaan EKG selama nyeri berguna dalam mendiagnosa luasnya infark miokardium atau adanya infark angina

c)    Beri oksigen sesuai yang diresepkan
Rasional :
Terapi oksigen dapat meningkatkan suplai oksigen ke jantung bila saturasi oksigen sebenarnya di bawah normal

d)   Beri terapi obat sesuai resep dan evaluasi respon pasien terus menerus
Rasional :
Terapinobat merupakan pertahanan petama untyk menjaga jaringan jantung, dan efek obat sangat berbahaya maka respon pasien harus dikaji

e)    Pastikan istirahat pasien cukup: gunakan pegangan pada sisi tempat tidur; tinggikan tempat tidur bagian kepala untuk menambah kenyamanan; diit cair bila dapat ditoleransi; sokong lengan selama melakukan aktivitas ekstremitas atas; beri pencahar untuk mencegah mengejan saat buang air besar; beri suasana tenang dan hilangkan ketakutan serta kecemasan dengan selalu siap membantu, tenang, dan kompeten, kunjungan kerabat tidak sama bagi setiap pasien tergantung respon pasien.
Rasional :
Istirahat fisik dapat mengurangi konsumsi oksigen jantung. Ketakutan dan kecemasan dapat menyebabkan stres; berakibat mencetuskan katekolamin endogen, yang dapat menyebabkan peningkatan konsumsi jantung. Dengan meningkatnya epinefrin ambang nyeri jugan akan menurun dan akan meningkatkan konsumsi jantung

f)    Tingkatkan kenyamanan fisik dengan menyediakan asuhan keperawatan dasar kepada pasien
Rasional :
Kenyamanan fisik memperbaiki kesejahteraan pasien dan mengurangi kecemasan.

D: Potensial pola pernapasan tidak efektif berhubungan dengan kelebihan cairan
Tujuan : tidak terjadi kesulitan pernapasan

Kriteria hasil :
a)    Tidak merasakan napas pendek, dispnu ketika latihan, ortopnu, atau dispnu paroksismal nocturnal
b)   Kecepatan pernapasan dibawah 20/menit ketika aktivitas fisik dan 16 napas/menit pada saat istirahat
c)    Warna kulit PaCO2 normal
d)   PaO2 dan normal
e)    Frekuensi jantung 60-100 kali/menit dengan tekanan darah normal
f)    Foto dada normal
g)   Pasien melaporkan nyeri dada hilang
h)   Nampak nyaman: Nampak cukup istirahat, frekuensi napas, frekuensi jantung, dan tekanan darah kembali ke tingkat sebelum nyeri, kulit hangat dan kering

Intervensi
a)    Kaji, dokumentasi, dan laporkan kepada dokter adanya bunyi jantung abnormal (terutama S dan S4 galop dan murmur holosistolik akibat disfungsi otot papile ventrikel kiri), bunyi napas yidak normal (terutama krekel), dan intoleransi pasien terhadap aktivitas tertentu, setiap 4 jam sekali dan setiap nyeri dada

Rasional :
Data tersebut berguna daam mendiagnosa gagal jantung kiri. Bunyi pengisian diastolik (galop S3 dan S4) akibat turunnya compliance ventrikel yang berhubungan dengan infark miokard. Disfungsi otot papiler (karena infark otot papiler) dapat mengakibatkan regurgitasi mitral dan penurunan volume sekuncup, mengakibatkan gagal jantung kiri. Adanya krekel (biasanya di dasar paru) merupakan indikasi kongesti paru akibat peningkatan tekanan jantung. Hubungan gejala dan aktivitas dapat digunakan sebagai panduan untuk aktivitas berikutnya dan dasar untuk penyuluhan pasien.

b)   Perbaiki kenyamana fisik dengan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien
Rasional :
Kenyamanan fisik memperbaiki kesejahteraan pasien dan mengurangi kecemasan

c)    Ajarkan pasien:
1)   Mematuhi diit yang dianjurkan (misalnya : jelaskan mengenai diit rendah garam, rendah kalori)
Rasional :
Diit rendah garam dapat mengurangi cairan ekstraseluler, sehingga mengurangipreload dan afterload, dan konsumsi oksigen jantung. Pada pasien obesitas penurunan berat badan dapat mengurangi kerja jantung dan menaikkan volume tidal
2)   Mematuhi aktivitas yang dianjurkan
Rasional :
Aktivitas yang dianjurkan disesuaikan secara individual untuk mempertahankan frekuensi jantung dan tekanan darah dalam batas aman

D: Potensial perfusi jaringan tidak adekuat berhubungan dengan penurunan curah jantung

Tujuan : mempertahankan  atau mencapai perfusi jaringan yang adekuat

Kriteria hasil :
a)    Telanan darah normal
b)   Idealnya, irama sinus normal tanpa disritmia harus dipertahankan, atau irama dasar pasien dipertahankan antara 60-100 kali/menit tanpa disritmia
c)    Tidak ada keluhan kelelahan dengan aktivitas yang dianjurkan
d)   Tetap sadar penuh dan tertoleransi dan tanpa perubahan kepibadian
e)    Tampak nyaman : ttampak cukup istirahat, frekuensi napas, frekuensi jantung, dan tekanan darah kembali ke tingkat sebelum nyeri, kulit hangat dan kering
f)    Haluaran urin lebig dari 40ml/jam
g)   Ekstermitas tetap hangat dan kering dengan warna yang normal

Intervensi
a)    Kaji, dokumentasi dan laporkan hal-hal berikut kepada dokter setiap 4 jam:
Hipotensi
Takikardi dan disritmia lainnya
Mudah lelah
Perubahan mental (dengan input dari keluarganya)
Penurunan haluaran urin (kurang dari 250 ml/8 jam)
Ektremitas dingin, lembab, dan sianosis
Rasional :
Data tersebut berguna dalam menentukan keadaan curah jantung yang rendah. Pemeriksaan EKG pada saat nyeri sangat berguna untuk mendiagnosa luasnya iskemia, cedera, dan infark miokardium, dan varian angina

b)   Beri kenyaman dan istirahat pada pasien dengan memberikan asuhan keperawatan individual
Rasional :
Kenyamanan fisik akan memperbaiki kesejahteraan pasien dan mengurangi kecemasan. Istirahat mengurangi konsumsi oksigen miokard.

D: Kecemasan berhubungan dengan ketakutan akan kematian

Tujuan : menghlangkan kecemasan

Kriteria hasil :
a)    Kecemasan berkurang
b)   Pasien dan keluarga mendiskusikan kecemasan mereka tentang kematian
c)    Kecemasan pasien dan keluarga berkurang
d)   Nampak cukup istirahat, kecepatan napas kurang dari 16/menit, frekuensi jantung kurang dari 100/ menit tanpa denyut ektopik, tekanan darah dlam batas normal pasien, kulit hangat dan kering
e)    Berpartisipasi secara aktif dalam program rehabilitasi yang progresif
f)    Mempraktekkan teknik pengurangan stres

Intervensi

a)    Kaji, dokumentasi, dan laporkan kepada dokter tingkat kecemasan pasien dan keluarganya, serta mekanisme koping
Rasional : data tersebut memberikan data informasi mengenai persaan sehat secara umum dan psikologis sehingga gejala pasca terapi dapat dibandingkan. Penyebab kecemasan sangat bervariasi dan individual, dan meliputi sakit akut, pemondokan di rumah sakit, nyeri, penghentian kegiatan sehari-hari di rumah dan pekerjaan, perubahan peran dan citra diri akibat penyakit kronis, dan berkurangnya dukungan financial. Karena anggota keluarga yang cemas dapat menularkan kecemasan kepada pasien, maka perawat harus mengurangi tingkat kecemasan keluarga

b)   Kaji kebutuhan bimbingan spiritual dan rujklah bila perlu
Rasional :
Jika pasien memerlukan dukungan keagamaan, konseling agama akan membantu mengurangi kecemasan dan rasa takut

c)    Biarkan pasien (dan keluarganya) mengespresikan kecemasan dan ketakutannya:
Dengan memperlihatkan ketertaikan dan keprihatinan yang asli
Dengan mempermudah komunikasi (mendengarkan, mencerminkan, membimbing)
Dengan menjawab pertanyaan
Rasional :
Kecemasan yang tidak dapat dihilangkat meningkatkan konsumsi oksigen jantung
d)   Manfaatkan waktu kunjungan yang fleksibel untu membantu menurunkan tingkat kecemasan pasien
Rasional :
Kehadiran dukungan anggota keluarga dapat mengurangi kecemasan pasien maupun keluarga

e)    Dukung partisipasi aktif dalam program rehabilitasi jantung
Rasional :
Rehabilitasi jantung yang diresepkan dapat membantu menghilangkan ketakutan akan kematian, dapat mengurangi kecemasan dan dapat mningkatkan persaan sehat

f)    Ajarkan teknik pengurangan stres
Rasional:
Pengurangan stres dapat membantu mengurangi onsumsi oksigen jantung dan meningkatkan perasaan sehat

D: Intoleransi aktivitas akibat ketidakseimbangan intake oksigen dengan kebutuhan

Tujuan: aktivitas klien dapat meningkat tanpa adanya nyeri dada

Kriteria hasil:
a)    klien dapat mendemonstrasikan penigkatan toleransi aktivitas dengan frekuensi
b)   jantung dan tekanan darah dalam batas normal klien.
c)    Klien tidak mengeluh adanya nyeri dada saat beraktivitas

Intervensi
a)    Anjurkan pasien menghindari peningkatan tekanan abdomen misalnya mengejan saat defekasi
Rasional :
Aktivitas yang memerlukan menahan nafas dan menunduk(maneuver valsava) dapat mengakibatkan braddikardi juga menurunkan cuurah jantung dan takikardi dengan peningkatan tekanan darah.

b)   Latih klien untuk menerapkan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas, seperti banguin dari kursi bila tidak ada nyeri, ambulasi dan istirahat selama 1 jam setelah makan
Rasional :
Aktivitas yang meningkat dapat memberikan control jantung, meningkatkan regangan dan mencegah aktivitas berlebihan

c)    Rujuk ke program rehabilitasi jantung

Rasional :
Memberikan pengawasan ketat untuk proses penyembuhan
Potensial ketidakpatuhan dengan program perawatan diri berhubungan dengan penolakan terhadap diagnosa infark miokardium
Tujuan : mematuhi asuhan kesehatan di rumah, memperpanjang dan memperbaiki kualitas hidup
Hasil yang diharapkan :
Pasien menyesuaikan kegiatannya selama masa penyembuhan sampai benar-benar sembuh
Masa enyembuhan jantung berbeda-beda, biasanya 6-8 minggu
Infark miokardium biasanya memerlukan berbagai penyesuaian gaya hidup; adaptasi terhadap serangan jantung merupakan proses yang teus berlangsung

1)      Menghindari aktivitas yang menyebabkan nyeri dada, dispnu, atau kelelahan yang luar biasa
2)      Menghindari panas dingin yang berlebihan dan berjalan melawan angin
3)      Menurunkan berat badan bila perlu
4)      Berhenti merokok
5)      Aktivitas harus diselingi dengan aistirahat yang cukuo. Kelelahan yang ringan itu normal dan biasa dijumpai pada masa penyembuhan
6)      Menggunakan kekuatan diri untuk melakukan kompensasi terhadap keterbatasan
7)      Mengembangkan pola makan yang teratur

a)      Menghindari makan besar dan makan tergesa-gesa
b)      Membatasi minuman yang mngandung kafein, karena dapat mempengaruhi frekuensi,irama jantung, dan tekanan darah
c)      Mematuhi diit yang dianjurkan, menyesuaikan kalori, lemak, natrium yang dianjurkan


8)      Berusaha mematuhi aturan pengobatan khususnya dalam hal minum obat
9)      Melakukan aktivitas yang dapat membebaskan dari tekanan
Pasien menjalani program yang teratur dalam meningkatkan aktivitas dan latihan dalam jangka panjang
Melakukan penyesuaian fisik dengan peningkatan bertahap tingkat aktivitas sesuai peraturan

1)      Berjalan-jalan setiap hari, dengan meningkatkan jarak dan lamanya yang sesuai dianjurkan
2)      Memantau denyut nadi selama aktivitas fisik sampai tercapai tingkat aktivitas maksimal
3)      Menghindari aktivitas yang menegangkan otot; latihan isometrik, angkat berat setiap aktivitas yang memerlukan energy mendadak
4)      Menghindari aktivitas fisik segea setelah makan
5)      Menyingkat waktu kerja saat pertama kali kembali ke pekerjaan

Berpartisipasi dalam program latihan harian yang dapat dilanjutkan ke program latihan teratur selama hidup
Menangani timbulnya gejala
Melaporkan diri ke fasilitas darurat terdekat bila terasa tekanan atau nyeri dada yang tidak hilang selama 15 menit dengan nitrogliserin

Menghubungi dokter bila terjadi hal berikut :
1)      Napas pendek
2)      Pingsan
3)      Denyut jantung yang cepat atau lambat
4)      Bengkak pada kaki atau tumit

 Sumber:http://anis-m-fkp11.web.unair.ac.id/artikel_detail-78222-Keperawatan%20Kardiovaskuler-Askep%20NSTEMI.html

Rabu, 03 Juni 2015

Pengertian dan Perbandingan Teori Belajar Konstruktivistik

teori belajar menurut para ahli

Assalamualaikum wr.wb sobat Edu Salju, sekarang saya akan melanjutkan artikel sebelumnya yang berhubungan dengan pendidikan tepatnya masalah teori belajar yaitu tentang teori belajar menurut Konstruktivistik, nah ini ada sedikit pembahasan tentang teori belajar konstruktivistik yang juga sebagai sambungan teori belajar kognitif pada postingan sebelumnya.

Teori Belajar Konstruktivistik

Karakteristik Manusia Masa Depan yang Diharapkan
      Karakteristik manusia masa depan yang dikehendaki tersebut adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan diri sendiri dan menjadi diri sendiri yaitu suatu proses … (to) learn to be. Mampu melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi kelestarian dan kejaan bangsanya (Raka Joni,1990)

1.      Konstruksi Pengetahuan

      Von Galsereld (dalam Paul, S., 1996) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu: 1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pngalaman, 2) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan, dan 3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya.

2.      Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivistik

      Proses belajar konstruktivistik. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Proses tersebut berupa “…..constructing and restructuring of  knowledge and skills (schemata) within the individual in a complex network of increasing conceptual consistency…..”. pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial

      Peranan Siswa (Si-Belajar). Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oleh sebab itu meskipun kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.

      Peranan Guru. Dalam belajar konstruktivistik guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru hanya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belaajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemauannya.

      Peranan kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi:
a.       Menumbuhkan kemandiriran dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
b.      Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa.
c.       Menyediakan sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang optimal untuk berlatih.

Sarana belajar. Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya. Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berfikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif, dan mampu mempertanggung jawabkan pemikirannya secara rasional.

Evaluasi belajar. Lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman. Hal ini memunculkan pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik. Ada perbedaan penerapan evaluasi belajar antara pandangan behavioristik (tradisional) yang obyektifis konstruktivistik. Pembelajaran yang diprogramkan dan didesain banyak mengacu pada obyektifis, sedangkan Piagetian dan tugas-tugas belajar discovery lebih mengarah pada konstruktivistik. Obyektifis mengakui adanya reliabilitas pengetahuan, bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, dan tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi. Sehingga belajar merupakan asimilasi objek-objek nyata. Tujuan para perancang dan guru-guru tradisional adalah menginterpretasikan kejadian-kejadian nyata yang akan diberikan kepada para siswanya.
Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan dapat menginterpretasikan informasi kedalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang dan minatnya. Guru dapat membantu siswa mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal.

3.      Perbandingan Pembelajaran Tradisional (Behavioristik) dan Konstruktivistik

      Dalam pembelajaran, guru banyak menggantungkan pada buku teks. Materi yang disampaikan sesuai dengan urutan isi buku teks. Diharapkan siswa memiliki pandangan yang sama dengan guru, atau sama dengan buku teks tersebut. Alternatif-alternatif perbedaan interpretasi diantara siswa terhadap fenomena sosial yang kompleks tidak dipertimbangkan. Siswa belajar dalam isolasi, yang mempelajari kemampuan tingkat rendah dengan cara melengkapi buku tugasnya setiap hari.
      Pembelajaran konstruktivistik membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru. Transformasi terjadi dengan menghasilkan pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru. Pendekatan konstruktivistik lebih luas dan sukar untuk dipahami. Pandangan ini tidak melihat pada apa yang dapat diungkapkan kembali atau apa yang dapat diulang oleh siswa terhadap pelajaran yang telah diajarkan dengan cara menjawab soal-soal tes (sebagai perilaku imitasi), melainkan pada apa yang dapat dihasilkan siswa, didemonstrasikan, dan ditunjukkannya.
      Secara rinci perbedaan karakteristik antara pembelajaran tradisional atau behavioristik dan pembelajaran konstruktivistik adalah sebagai berikut:


No.
Pembelajaran tradisional
Pembelajaran konstruktivistik
1.
Kurikulum disajikan dari bagian-bagian menuju keseluruhan dengan menekankan pada keterampilan-keterampilan dasar.
Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas.
2.
Pembelajaran sangat taat pada kurikulum yang telah ditetapkan.
Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa.
3.
Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerja.
Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan.
4.
Siswa-siswa dipandang sebagai “kertas kosong” yang dapat digoresi informasi oleh guru, dan guru-guru pada umumnya menggunakan cara didaktik dalam menyampaikan informasi kepada siswa
Siswa dipandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya.
5.
Penilaian hasil belajar atau pengetahuan siswa dipandang sebagai bagian dari pembelajaran dan biasanya dilakukan pada akhir pelajaran dengan cara testing.
Pengukuran proses dan hasil belajar siswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa, serta melalui tugas-tugas pekerjaan.
6.
Siswa-siswa biasanya bekerja sendiri-sendiri, tanpa ada group proses dalam belajar
Siswa-siswa banyak belajar dan bekerja di dalam group proses.

Daftar Pustaka
Darsono, Max. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.
Budiningsih, Asri. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Purwanto, M. Ngalim. (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
R.E, Slavin. (2000). Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon.


Sekian artikel dari saya tentang teori belajar menurut Konstruktivistik, semoga bermanfaat khususnya bagi pembaca, apabila ada yang kurang paham atau adanya tambahan, bisa anda sampaikan melalui kolom komentar terima kasih, wassalam